Kau Menempaku Menjadi Kuat Sekalipun Terluka Begitu Dalam

Kini kau pergi menyisahkan cerita yang pernah kita ukir bersama. Dengan harapan dan janji yang sempat kita kuatkan dengan niat bersama

Kita yang bukan saling mengenal dalam waktu yang singkat. Bukan pasangan dengan usaha mengerti satu sama lain dari hari kemarin. Kita juga bukan aku dan kamu yang hanya mengenal siapa nama dan kapan kita dilahirkan. Kini seolah kau tak mnegenal itu semua. Kau pergi dengan kata maaf yang membuatku hancur bagai keramik yang jatuh dari atas meja.

Selama dan sejauh ini kita berjala bersama. Menempa masing – masing hati untuk menjadi pribadi yang saling menguatkan. Saling memberi semangat dan cinta. Perhatian tak pernah ketinggalan sekalipun untuk urusan memakai jas hujan saat hujan tiba. Kita tahu satu yang membuat kita rentan mengalami goncangan. Tapi kau berkali – kali meyakinkan, jika aku dan kau bisa melaluinya.

Tapi kini semuanya berbeda. Kau menyerah dan pergi begitu saja. Kejujuranmu yang menyakitkan memang aku hargai tapi belum mampu aku terima dengan hati. Maafkan aku, hati ini sangat senang mendengarmu tiba tapi seketika hancur saat kau bersua tentang kita yang tak lagi bisa bersama.

 Sikapmu yang Seketika Berubah Membuatku Berfikir Seribu Jenis yang Berbeda

url

Maafkan aku yang belum menerima alasanmu pergi. Kau datang memberikan senyum ceria untukku. Tanpa disadari aku melalui hari – hari itu dengan sangat bahagia. Menantimu selalu menjadi aktivitas yang membuatku ingin selalu tersenyum. Bahkan pesanmu saja membuatku ingin sekali memutar waktu dengan sangat cepat.

Kau yang datang dengan tiba – tiba, membuatku berfikir banyak tentang datangnya pesan bahwa kau menungguku di terminal. Kau menyapaku tapi tak seperti biasanya. Tidak ada sapaan hangat dan cium punggung tangan lagi. Kau seolah ingin segera berbicara denganku. Menyelesaikan urusan yang membuatmu rela terbang dan tinggal hanya semalam, bukan sehari.

Penasaran, kau membuatku mati kutu saat kau menatap aku sangat tajam. Memegang kedua tanganku dengan erat. Mulai berbicara kata cinta dan sayang. Dan berakhir dengan ucapan yang membuatku tersentak dan enggan menatap matamu lagi.

Entah karena apa kau membuatku diam tanpa 1 kata sama sekali. Wajahku enggan kuletakkan di hadapanmu. Malu rasanya saat kau tahu bahwa aku ingin sekali membawamu pergi dan mengajakmu untuk berbicara hal lain.

Tapi lagi – lagi kau menahanku. Meyakinkan aku akan semua yang kau katakan. Dan saat itulah aku mulai merasa sakit yang teramat dalam.

Pertama Kalinya Kau Membuatku Menangis dan Aku Enggan Meminta Perlindungan Darimu

 pertama kalinya aku menangis dan enggan kau rangkul

Kau menyakitiku untuk yang pertama kalinya. Tak pernah aku merasa semarah dan sesedih ini sebelumnya. Kau yang membuatku mampu beralih dari amarah menjadi tawa dan canda. Kini membuatku semakin enggan menatap kedua matamu. Dia yang kau jadikan alasan, dia yang kau bilang sudah mengisi hatimu jauh lebih lama dari pada aku. Dan dia yang membuatku tidak mendapatkan cintamu seutuhnya.

Siapa dia? Aku tak mengenalnya. Hanya pernah tahu dan membuatku cemburu karena kau menghubunginya. Dan kini kau datang menyempatkan waktumu, membuang waktu kuliahmu untuk mengatakan ini kepadaku.

Kau bilang, kau masih menyukainya. Lebih dari rasa sayangmu untukku selama ini. Haruskah aku percaya? Sampai sekarang sedikitpun aku tidak percaya itu alasanmu rela dan tega meninggalkanku. Aku bukan anak kecil yang mudah kau bodohi. Hingga masalah hatimu yang berpaling aku saja tak tahu. Firasatku untuk hari itu memang sudah lama ada. Tapi tentang alasanmu, aku tak pernah berfikir itu, firasatpun aku tak punya.

Kau lelah? Kau bosan? Kau enggan bersamaku lagi? Mungkin itu jawaban yang benar. Tapi kenapa dia yang kau jadikan alasan. Sampai kau rela menghubunginya di depanku, sesuai dengan permintaanku. Aku yang memberimu kesempatan berfikir sekali lagi, bahkan kau menolaknya. Kau seperti ingin segera melepasku dan mengejarnya.

 Haruskah aku menjadi seegois dirimu? Enggan melepasmu dan terus berjuang lagi bersamamu?

Kau memilih pergi dengan keegoisanmu itu

Haruskah aku percaya dan melepasmu begitu saja? Setelah sekian lama aku mengenalmu, memulai rasa ini dari dasar dan mencintaimu sampai sedalam ini. Aku bahkan sudah berjuang sangat jauh, sangat keras dan kaupun mnegiyakan dan memberiku semangat. Kini haruskah kau menyerah begitu saja? Melepaskanku dan memenuhi egomu mengejar cinta yang belum tentu menjadi milikmu?

Haruskah aku menjadi seegois dirimu? Enggan melepasmu dan terus berjuang lagi bersamamu?

Bahkan inipun kau tolak. Seolah tidak ada lagi alasan bagimu untuk tidak mengejarnya dan melepasku. Lalu aku bagaimana? Aku yang berjuang sekeras ini harus menyerah? Tidak, itu bukan sikapku. Aku memang tidak lebih dari siapapun. Aku jauh dari keindahan yang bahkan dia berikan untukmu, dan aku bukan orang yang bisa selalu membuatmu tersenyum tanpa rasa jengah. Tapi satu yang aku punya, aku pantang menyerah. Sulit untukku menyerah di saat aku sudah berjalan sejauh ini.

Mungkin mudah bagimu menyuruhku untuk berhenti dan mencari penggantimu yang lebih baik. Dan jika itu mudah bagiku, sudah aku dapatkan sejak perasaan ini belum sepenuhnya untukmu. Lalu sekarang? Aku sudah meyakini perasaanku untukmu, untuk bertahan dan berjuang bersamamu. Sama seperti mimpi dan harapan kita di masa lalu.

 Aku Memang Tidak Lebih dari Siapapun, Tapi Kau Sudah Membuatku Menjadi Pribadi yang Pantang Menyerah

Kau membuatku menjadi pribadi yang lebih kuat dan pantang menyerah

Aku masih ingin memperjuangkan KITA. Aku masih ingin menjadi orang kuat dan tegar seperti yang selama ini kau bentuk di dalam jiwaku. Aku bukan orang yang lebih dalam banyak hal, tapi satu yang membuatku kuat sampai saat ini, tekadku untuk bertahan dan memperjuangkan apa yang aku inginkan jauh lebih kuat.

Kau kini pergi menyisahkan rasa penasaran dan tanda tanya besar untukku. Aku terus bertanya, dan tidak hentinya berdoa. Jujur aku belum mengikhlaskanmu dengan wanita yang akan menggantikanku. Bahkan jika alasanmu bukan itu, aku mungkin jauh lebih merelakanmu pergi.

Aku Tahu Kini Aku Sendiri, Tapi Ijinkan Aku Berjuang untuk KITA Nantinya

IJinkan aku berjuang untuk KITA nantinya

Kini aku akan terus berjuang meskipun aku sendiri. Tanpa kamu, tanpa cintamu lagi. Semangat yang kau berikan padaku, menempaku hingga menjadi pribadi yang kuat bertahan dalam jalan yang sulit untukku lalui sendiri. Tapi aku yakin aku bisa.

Entah sampai kapan, aku ingin menunggumu kembali melihatku. Sambil itu aku akan terus mendoakanmu, mendoakan kesehatanmu, keselamatanmu dan hatimu yang kini masih dibolak – balikkan oleh Sang Maha Pencipta.

Ijinkan aku untuk menunggumu sampai entah kapan. Bahkan sampai kau melihatku berbeda dari saat ini. Tapi cukup kau tahu, aku bukan orang yang mudah menyerah, terlebih saat sudah berjuang cukup jauh dan merasakan sakit yang sangat dalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s