Jeda

Kau tahu apa itu jeda? Samakah dia seperti sebuah jarak?

Jeda dan jarak memang tak berbeda namun juga tak sama. Keduanya membuatku terus mencaritahu arti sebenarnya. Hingga menenggelamkan diri dalam sebuah peran yang terus menyakitkan. Ya, kini aku sedang bermain peran. Menjadi seorang pesakitan yang selalu baik-baik saja, bahkan tak sedikitpun mengerti lagi apa itu artinya terluka.

Mungkin jeda seperti kita saat ini, berbentang jarak jengkal tangan di samping lengan. Berjalan beriringan kemudian sendirian. Jeda yang membuat kita berada pada peran masing-masing. Menjadi seseorang yang tak pernah terluka dan tidak sedikitpun melukai.

Mungkin jeda seperti langkah kita yang selalu bersama kemudian ada salah satu yang mundur dengan teratur. Hingga saling tak terlihat antar punggung dengan hati. Luka memang tak pernah permisi dalam menyapa dan masuk ke ruang hati kita. Sedikit ataupun banyak, luka tak pernah mengukur porsinya. Justru kitalah yang saling menggali luka di dalam hati masing-masing.

Masihkah kau tak mengerti apa itu jeda?

Ya, kau dan aku memiliki waktu untuk saling tak menyapa. Bukan karena saling membenci, hanya untuk menyingkap luka dan mengubur asa yang terlalu tinggi kita ciptakan.

Jeda membuat kita merelakan hati untuk menjadi pelaku dan pesakitan karena luka kita sendiri. Ketidaksempurnaan memang sering dikambinghitamkan oleh kita di dalam jeda yang membuat kita berpisah.

Menjadi pesakitan karena rindu memang jalan yang sering kupilih karena aku masih menganggap jeda mampu aku dan kamu taklukkan. Hingga kesombongan membawa kita menjadi pesakitan cinta yang sesungguhnya.

Aku masih sering menyangkal bahwa jeda ini bukanlah milik kita. Tapi semakin aku membodohi diri semakin aku terluka karena itu.

Namun kini pun aku sadari bahwa jedalah yang akan membuat kita mampu menjadi manusia yang berkembang. Mandiri dan juga berani. Menjadi pribadi yang sabar dan jauh lebih ikhlas dalam menerima ketentuanNya. Dia yang tak pernah meninggalkan kita sedikitpun. Entah bahkan ketika kita sedikit demi sedikit menjauh dan tak menghiraukan. Dialah yang membawa kita kembali dalam dekapan hangat sang pemilik Semesta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s