Rindu

menyakiti diri dengan membuatmu mengejarnya

Hai kau yang disana,

Apa kabar dirimu kini? Sudah pulang kerja? Sudah makan malam? Sedang apa kamu sekarang?

Ah.. ingin rasanya aku bertanya seperti ini. Seperti dulu, setiap malam, setiap hari dan bahkan tak ada kata setiap karena setiap hari pertanyaan itu muncul dan terjawab penuh cinta.

Ya, aku dan kamu seperti sisi mata uang yang tak pernah terpisah sekalipun sulit sekali untuk bertemu. Ya, kita yang dulu adalah kita dengan jiwa yang kuat untuk menunggu dan menahan rindu yang sangat besar.

Aku adalah kerinduan yang tersimpan dalam hati penuh tanda tanya. Aku adalah rasa cinta yang tak pernah kau tahu sampai dimana aku merawatnya. Aku adalah keinginan untuk bertemu yang semakin hari semakin bertambah dalam.
Gemintang di langit pun tak sanggup rasanya mengungkapkan kerinduanku akan tingkah konyolmu, deru suara lembutmu dan juga sapaan hangatmu yang melepasku ke peraduan malam.

Kini aku adalah sosok penuh candala dalam diriku. Bukan lagi pribadi yang mampu mengungkapkan asa dan rasaku seperti dulu. Seperti sebuah gelas kaca yang rapuh, kau rawat aku, kau letakkan aku di ketinggian agar tak tersentuh dan terjatuh.

Meraki adalah caramu menyayangiku, mencintaiku dan membawaku serasa terbang ke langit ketujuh. Hingga tak pernah kusadari bahwa akulah yang sangat mencintaimu, akulah yang tak pernah bisa lepas dari dirimu. Dan aku jugalah yang lupa atas ketergantungan hidupku terhadapmu.

Pernahkah secara diam-diam kau berpikir untuk tetap terus bersamaku. Dengan caramu mencintaiku, sederhana namun cukup membuatku enggan untuk pergi dari genggamanmu.

Ya, aku rindukan kamu yang dulu. Yang mampu mencintaiku dengan sangat sederhana. Dengan senyum memikat dan genggaman tangan hangat. Sekalipun terkadang itu semua hanya muncul dalam goresan mimpi dan anganku bertemu denganmu. Aku setia dan memilih menunggumu untuk mendapatkan itu semua darimu.

Salahkah aku merindukanmu terlalu dalam? Salahkah aku yang memilihmu untuk menjadi tempatku menguji cinta dan rasa setia. Hinggaku mampu kalahkan penasaranku untuk hati lain yang tak pernah permisi datang ke hatiku.
Oh, kamu yang kini telah pergi.

Aku merindukanmu. Merindukan kita yang dulu, merindukan rengkuhan hangat lenganmu di pinggang dan genggaman tanganmu.

Akulah yang hanya mampu duduk dan merenungkan apa yang membuatmu pergi. Dimanakah letak kurangku, hingga tak sedikitpun kau berpikir untuk tetap bersamaku hingga nanti.

Salahkah aku yang bermimpi memiliki kisah seperti di sebuah dongeng. Bertemu dengan pangeran berkuda putih yang menyelematkanku lalu hidup bahagia selamanya? Ya, ku tahu hidup kita bukanlah dongeng yang dapat berjalan sesingkat dan semudah itu.

Akulah raga yang merindukanmu sampai dengan detik ini. Sudah kucoba ikhlaskan kepergianmu, tapi tak kutemukan titik kerelaan hatiku menerima setiap keputusan menyakitkan itu.

Kini aku menjadi pesakitan hati yang terus berpura-pura. Akulah jiwa yang selalu menyimpan luka dalam setiap senyum dan tawa berkedok bahagia. Akulah raga yang tak pernah lelah meski sudah kaki sudah tak sanggup lagi untuk melangkah.

Kau menempaku menjadi sosok yang setia dan mampu menunggu dalam rindu. Kau jugalah yang membuatku mampu bertahan dalam luka cemburu yang kupendam sendiri. Hingga kau jugalah yang mengajarkanku bertahan dalam perihnya luka yang kau goreskan dalam di hatiku.

Tak cukupkah aku menahan rindu dan cemburu saat jauh darimu. Bahkan kaulah yang mengajarkanku untuk percaya pada mimpi yang kita bangun dulu. Percaya pada harapan yang kita aminkan bersama.

Ku mohon, ingatlah yang satu ini. Saat kau dan aku sama-sama merindu, kau dan aku tak akan menyerah hingga tiba Tuhan yang pisahkan kita dalam maut nantinya.

Saat kini kau pergi dan memperjuangkan hati yang lain. Apakah adil saat kau telah membuatku merasa harus bertahan untukmu disini, dan SENDIRI.

Sekejam itukah kau? Aku rasa tidak. 

Mungkin akulah yang tak mampu genapkanmu dalam setiap derap langkahmu. Mungkin aku jugalah yang tak mampu menjaga rindu dan cintamu yang dulu hanya untukku.

Kini aku hanya akan diam, menantimu datang. Entah ini benar akan terjadi atau kembali hanya harapan yang kau dan aku ciptakan dulu.

Aku akan tetap berpura-pura menahan rindu ini. Berpura-pura baik-baik saja agar mampu aku bertahan untuk hidupku nanti. Hingga kulupakan jika kini aku hanya seorang yang penuh dengan kepura-puraan hati tanpa luka, goresan dan patahan yang cukup dalam.

Kamu akan tetap ada dalam segenggam kerinduanku akan cinta dan impian kita dulu. Kejarlah dia yang kau anggap mampu menggenapkanmu. Hingga tak kau dapati itu. Ketuk sajalah pintu ini lagi, akan kusambut kau dengan baik. Sebagai apa nanti. Aku harap kau mau mengerti bagaimana manusia yang satu ini memungut kembali hatinya yang berserakan entah sampai sedalam dan sejauh apa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s