Anak Pertama, Kamu Harus Lebih Kokoh dari Pondasi

“anak pertama adalah mereka yang memiliki hati lebih kuat dari sebuah beton” 

Banyak yang berkata bahwa anak pertama adalah mereka yang harus hidup seperti pohon kelapa, harus mampu kokoh berdiri layaknya gedung pencakar langit, atau bahkan merekalah yang harus tegas seperti karang di lautan lepas.

Saya seringkali bertanya kepada diri saya sendiri, apakah yang saya lakukan sebagai seorang anak pertama sudah benar. Sudah pantas. Sudah tepat? Banyak saya melihat sekeliling saya yang juga menjadi anak pertama di dalam keluarga mereka. Apakah mereka seperti saya? Apakah saya seperti mereka? Apakah cara kami sama? Apakah masalah kami sama?

Anak pertama bukan sekedar mereka yang lahir pada urutan pertama di dalam silsilah sebuah keluarga. Bukan pula mereka yang biasa dipanggil “kakak” oleh anak lainnya. Bukan pula sekedar mereka yang lebih banyak pengalaman melakukan banyak hal di dalam hidupnya.

Bagi saya anak pertama adalah mereka yang sudah Allah takdirkan untuk bisa memikul sebuah tanggungjawab, beban bahkan menanggung banyak resiko dari sebuah keluarga. Merekalah yang akan banyak memegang peran di dalam keluarga. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, (sebenarnya). Semua terlihat dan harus diperlakukan sama. Benar memang jika anak pertama seorang laki-laki, dia akan menjadi figur pendukung atau pengganti bagi ayah mereka suatu saat nanti. Memikul beban yang sama besarnya dengan sang ayah. Menjaga ibu dan adik-adiknya. Bahkan melindungi semua keluarganya. Seolah saja dia lebih dari sekedar pintu, tembok dan atap bagi rumah keluarga itu. Dia jugalah yang akan menjadi tempat bagi semua keluarga mengadu dan meminta bantuan.

Tidak jauh berbeda dari seorang anak laki-laki. Anak perempuan dengan segala macam problematika di dalam hatinya. Menjadi sosok yang ingin sekali dimanja, tapi anak perempuan yang menjadi tertua di dalam keluarganya akan menjadi sosok ayah dan ibu sekaligus bagi adik-adiknya.

Anak pertama, dialah yang HARUS banyak belajar tentang apapun. Untuk sekedar memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang diberikan adik mereka.

Merekalah yang harus bekerja keras untuk sekedar menyelipkan bantuan tanpa membuat keluarga tersinggung, tapi ingin membantu banyak untuk keluarga.

Merekalah yang seolah kuat di segala situasi, seolah terlihat senang dan bahagia dalam banyak keadaan. Bahkan seolah menjadi anak yang selalu mampu tersenyum di dalam keadaan apapun.

Anak pertama adalah mereka yang sama dengan anak lainnya. Mereka ingin menjadi bagian dari masa kecil yang penuh dengan pujian atas prestasi, tidak banyak disalahkan karena harus mempertahankan mainan yang diinginkan oleh orang lain di dalam hidupnya, dan merekalah yang ingin memiliki waktu sebebas mungkin untuk bermain dan bertemu dengan banyak teman.

Tanpa bermaksud menyalahkan keadaan dan semua yang ia miliki. Anak pertama adalah mereka yang ingin, akan dan selalu memikirkan waktu kedepannya jauh sebelum semua memikirkan itu.

Dia adalah sosok yang selalu ingin melakukan semuanya lebih dulu dan memastikan bahwa hal itu baik untuk dilalui oleh keluarga yang lain. Anak pertama adalah mereka yang memang diciptakan untuk lebih kuat dari sekedar menahan tangis saat lutut tergores karena terjatuh dari sepeda roda tiga.

Anak pertama adalah mereka yang sudah memikul sebuah tanggungjawab besar sejak ia melihat indahnya awan putih di langit biru. Mereka harus bisa membuat diri mereka sebaik mungkin. Menjadi role model untuk adik dan orang lain. Menjadi sosok yang tidak mudah menangis dan harus selalu mengalah.

Anak pertama adalah mereka yang harus berprestasi atau sekolah tinggi agar menciptakan motivasi bagi adik dan orang lain. Mereka pula yang harus selalu menjadi tempat curhat bagi keluarga. Memiliki telinga dan hati yang peka, memiliki mata dan indra yang jeli untuk selalu waspada terhadap semua kebutuhan yang bahkan harus mampu diatasi meski tidak selalu tentang uang dan uang.

Anak pertama adalah mereka yang harus mau belajar lebih lama dari lainnya, bekerja lebih keras dari lainnya dan tidak mengeluarkan kata “menyerah” dengan mudah.

Untuk urusan cinta, merekapun harus berkali-kali berpikir. Mempertimbangkan dan tidak bisa asal “bahagia”. Bahagia bukan hanya tentang mereka dan kekasih hati mereka. Tapi tentang masa depan keluarga yang harus mereka jaga sampai akhir.

Banyak sekali hal yang memang harus mereka simpan seorang diri. Mungkin bisa jadi hanya Allah dan diri mereka sendirilah yang paling mengerti.

Seolah mereka adalah sosok yang kuat dan tidak pernah goyah untuk urusan ini dan itu. Tapi merekalah yang banyak berpikir sampai kadang lupa bagaimana rasanya memikirkan diri sendiri.

Mungkin banyak juga dari mereka yang ingin acuh dan seolah tidak tahu apapun untuk sekedar membebaskan diri dari rasa penuh tanggungjawab.

Mereka adalah sosok yang tidak ingin menyerah meski lelah tidak mengijinkan mereka untuk sekedar menghela nafas panjang.

Mereka pun adalah sosok yang harus terus berusaha meski kadang godaan untuk berhenti membawa mereka masuk dalam kebimbangan hati mereka sendiri.

Mereka juga adalah sosok yang tidak ingin begitu saja melupakan masalah dan pun ingin banyak bercerita tentang masalah mereka.

Bersabarlah duhai anak pertama, kalian adalah pilihan Allah yang sudah memiliki pundak lebih kokoh dari beton pondasi sebuah jembatan. Kalian pun adalah pilihan Allah yang memiliki hati lebih luas dari sekedar samudra di dunia. Tidak ada masalah tanpa penyelesaian. Ada kalanya kamu bukan lelah untuk melangkan, kamu hanya butuh tempat untuk bersandar dan mengadukan sambil sesekali menangisi apa yang membuatmu ingin menangis.

Semangatlah anak pertama, kamu bukan tidak bisa melakukan semuanya dengan baik. Kamu hanya harus tahu dimana kamu harus terus melangkah agar kamu bisa membuat diri sendirimu pun bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s