Manusia di Era Digital. Akan Seperti Apa?

Kenapa kali ini saya ambil tema ini? Saya seringkali dibingungkan dan juga dibuat galau karena teknologi. Kenapa sih? harusnya kan semua pekerjaan, semua kebutuhan bisa lebih cepat dikerjakan karena sekarang semuanya serba digital. Apa-apa tinggal sentuh layar, klik ini, klik itu, buka link ini, tekan tombol itu. Lalu apa lagi?

Yap, bener banget. Semua kebutuhan, semua keinginan kita terhadap sesuatu akan jauh lebih mudah dengan digital. Mulai dari contoh kecil seperti bertukar kabar, dari yang dulunya harus menunggu satu minggu agar surat kita sampai di tujuan, sekarang sudah bisa tersampaikan hanya dengan hitungan milidetik saja seseorang nan jauh di sana sudah tahu apa isi surat kita.

Saya menyadari teknologi sangat berpengaruh besar bagi kehidupan saya sejak kelas 2 SMP, sekitar 8 tahun lalu. Saat dimana saya mulai mendapatkan tugas yang harus mencari bahan di internet. Awalnya saja, saya harus bertanya dan memastikan berkali-kali kepada teman saya, bagaimana caranya membuka Google dan mencari gambar dari materi Geografi(saya masih ingat). Dari sana, saya mulai mengenal apa itu Google, email, sosial media seperti Friendster, Facebook, hingga Twitter.

Bagi saya itu sangat luar biasa, tapi nyatanya jauh di luar sana, hal ini sudah sangat biasa. Saya mulai ketagihan beraktivitas secara online. Menggunakan sosial media untuk bertemu dengan orang baru, bahkan bertemu dengan sahabat lama saya yang jauh di luar kota sana. Saya sangat berterima kasih berkat teknologi digital pun saya bersekolah dan menemukan passion saya untuk berkutat di dunia menulis yang saya lakukan secara online. (seperti saat ini)

Nah, tapi apa hubungannya dengan tema saya kali ini?

Saya senang ada internet, saya senang semua kegiatan dan kebutuhan saya bisa dengan cepat terpenuhi berkat teknologi. Saya pun bersyukur karena saya bisa banyak bertemu dengan orang baru melalui dunia internet. Dan salah satu yang saya syukuri adalah saya dapat membantu manusia yang lain lewat internet dan dunia digital.

Tapi, saya kembali berpikir. Apakah sejatinya komunikasi antar umat manusia akan sepenuhnya tergantikan dengan teknologi? Bahkan sering berhembus kabar, 20 atau 30 tahun lagi akan ada banyak pekerjaan manusia yang tergantikan oleh mesin-mesin canggih. Padahal jauh sebelum itu, manusia adalah mahkluk yang aktif berkomunikasi baik secara audio, visual ataupun kinestetik. Dengan komunikasi, manusia akan menemukan maksud dari apa yang manusia lain inginkan.

1000 tahun yang lalu pun, manusia tetap menggunakan komunikasi dan bahkan rela pergi jauh untuk sekedar bertemu dengan orang yang mereka rindukan. Tapi di era ini, manusia lebih cenderung individual. Lebih suka duduk diam berjam-jam di sebuah cafe untuk menikmati secangkir kopi atau lemon tea dengan koneksi internet tanpa banyak bicara.

Ya, manusia di era teknologi ini memang banyak dimudahkan. Lebih-lebih untuk semua urusan pekerjaan dan juga pendidikan. Apapun yang ingin dicari semua sudah ada di internet. Tapi kadang ini pula, yang membuat manusia satu dengan manusia lainnya kehilangan jati diri mereka sebagai makhluk sosial yang butuh untuk berkomunikasi.

Seringkali juga, dalam satu ruangan kerja, satu tim lebih memilih untuk berkomunikasi melalui grup online ketimbang “menengok” ke samping kanan kiri untuk bertanya dengan rekan satu tim. Pekerjaan mereka memang selesai dengan cepat, tapi apakah hubungan sosial mereka baik-baik saja?

Dimanapun manusia berada harusnya manusia tetaplah manusia yang harus berkomunikasi dengan sesama secara langsung. Bukan memilih untuk sibuk dengan urusan di dalam gadget mereka masing-masing.

Saya sangat mendukung saat ada cafe yang menerapkan peraturan, dimana pelanggan tidak diijinkan untuk bermain atau menggunakan handphone mereka selama berada di dalam cafe. Jika salah satu melanggar, maka ialah yang harus membayar. Tentu saja bukan untuk membiasakan orang untuk mentraktir teman mereka. Tapi lebih membiasakan saling berkomunikasi saat mereka bersama dengan orang-orang terkasih.

Teknologi memang banyak membantu, bahkan banyak ramalan dunia akan semakin mudah dengan adanya teknologi. Setiap masalah di masyarakat pun akan memiliki solusi yang menggunakan digital.

Tapi memang harus kembali diingat, manusia harus tetap berkomunikasi secara langsung dengan orang sebelahnya. Jangan membatasi diri untuk terus berkomunikasi dengan teknologi tapi tidak berhubungan secara langsung.

Sebenarnya ini kembali lagi pada pribadi setiap manusia. Ada mereka yang lebih suka berbicara daripada berkomunikasi di dunia online. Ada pula yang memilih untuk mempersingkat waktu berkomunikasi dengan menggunakan online messanger.

Yap, teknologi digital tidak bisa disalahkan karena manusia di era sekarang tidak banyak berkomunikasi secara langsung. Karena teknologi banyak membantu kehidupan manusia. Semua bisa dikolaborasikan untuk bisa menjadi manusia yang tetap manusia meski harus beradaptasi dengan dunia digital.

Iklan

Boleh Mengeluh, Tapi Menyerah itu Bukan Pilihan

Berpikir realistik saja, setiap orang pasti pernah berpikir untuk menyerah. Entah saat melakukan sesuatu hal, atau bahkan saat berada dalam situasi yang membuat dia sangat frustasi. Tidak jarang orang tersebut akan mengeluh bahkan ingin menyerah dan berhenti.

Ada perbedaan antara pria dan wanita saat keduanya menghadapi sebuah masalah. Wanita lebih terlihat sering sekali mengeluh. Menceritakan dan bahkan terkesan menyalahkan keadaan saat menghadapi sebuah masalah. Tidak bagi pria. Saat seorang pria akan menyimpan sendiri masalah mereka sampai mereka mampu menemukan solusi yang dirasa pas untuk menyelesaikan masalah itu.

Begitulah kedua makhluk ini menyelesaikan masalah di dalam hidup mereka. Tapi untuk mengeluh, tidak ada perbedaan. Semua orang berhak berkata “ahh capek”, “Ah bosan”, “kok Cuma gini aja sih” dan lain sebagainya. Mengeluh seorang menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Saat lelah, manusia memang harusnya mengeluh, karena begitulah kita menandakan bahwa ia masih layak disebut dengan manusia berperasaan. Mengeluh adalah manifestasi ketidakpuasaan atau ketidaknyamanan yang dialami seseorang. Banyak orang yang menyamakan arti dari mengeluh dan putus asah atau menyerah. Tapi keduanya jelas saja berbeda.

Bagi saya, setiap orang itu berhak untuk mengeluh. Mengeluarkan semua keluh kesahnya, entah pada orang lain atau bahkan dirinya sendiri. Mengeluh bukan sebuah kesalahan. Ini akan menjadi sesuatu yang fatal jika kita memilih untuk menyerah setelah mengeluarkan keluh kesah itu.

Menyerah bukan menjadi pilihan, apalagi saat kita memilih itu bahkan sebelum kita mencoba berkali-kali.

Mengeluh bukan berarti menyerah. Mengelagi saat kita memilih itu bahkan sebelum kita mencoba berkali-kali. Mengeluh bukan berarti menyerah.

Mengeluh yaitu waktu dimana kita mengeluarkan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan, tapi menyerah adalah suatu pilihan hati.

Tapi ingat, mengeluh terlalu banyak juga tidak baik. Berpikir dan bersikap positif, adalah obat saat kita mulai berpikir mengeluh adalah awal dari menyerah. Banyak orang yang menyerah salah satunya karena ia kurang diapresiasi oleh orang lain. Kurang mendapatkan penghargaan dan masih kurang puas dengan apa yang sudah ia hasilkan.

Salah satu bersikap positif yang bisa menghalau semua bentuk putus asa dan menyerah, menghargai dan memuji diri sendiri. Tapi bukan berarti menyombongkan diri. Setiap manusia pada dasarnya ingin dihargai, ingin diingat dan ingin dipuji. Terlepas dari apa yang sudah ia hasilkan itu mengharap pujian atau tidak. Manusia membutuhkan penghargaan untuk meningkatkan fungsi dari otak mereka agar lebih bersemangat lagi.

Mengeluh seperlunya, pujilah dirimu seperlunya tapi ingat jangan pernah sekalipun menjadikan “menyerah” sebagai sebuah pilihan. Karena Tuhanmu akan membuatmu lebih kuat saat kamu menghadapi masalah.

Era Millenial Bukan Tempat Menjadi Individu Egois, Kolaborasi Jadi Tempatmu Lebih Kreatif

Banyak jalan untuk menunjukkan bahwa setiap diri kita adalah manusia yang kreatif. Berbagai fasilitas sudah tersedia, membuat siapapun yang kini mengenal smartphone bisa menunjukkan kreativitas mereka. Bermula dari sosial media seperti Facebook hingga Instagram. Sampai membagikan cerita melalui postingan kreatif dengan format video seperti snapchat, Instagram hingga Youtube.

95% dari 63 juta pengguna internet di Indonesia adalah pengguna sosial media aktif. Selain karena memang menjadi generasi Y dan Z, mereka adalah kaum muda yang sangat ingin diakui kreatif oleh lingkungan sekitar mereka. Itu sebabnya sosial media menjadi tempat dimana kau muda di era millenial ini sangat aktif berjejaring sosial.

Tapi pada kenyataannya terkadang malah bikin miris. Berjejaring sosial, meski dalam arti kata mereka berkumpul di dunia online untuk semakin merekatkan hubungan, tapi malah menjauhkan mereka dan membuat semakin individualis. Coba saja perhatikan, mereka akan sibuk update status, membuat video story dan bahkan sibuk membalas pesan online meski sedang bersama di dalam sebuah jamuan yang sudah lama mereka janjikan.

Pertengahan tahun 2016 yang lalu, pengguna smartphone di Indonesia meningkat hingga 3,8%. Dari tahun ke tahun pertumbuhan ini pun akan semakin meningkat. Ini menandakan bahwa aktivitas online para kaum millenial akan semakin meningkat. Lalu apakah aktivitas mereka mampu menyalurkan kreativitas menjadi lebih baik?

Sudah seharusnya itu terjadi, karena era millenial bukan tempat dimana individu menjadi lebih egois dan mementingkan kebutuhan mereka sendiri, tapi inilah saatnya teknologi menjadi tempat dimana mereka bisa berkolaborasi.

Startup digital menjadi salah satu bukti nyatanya. Ribuan anak di Indonesia sudah membuktikan bahwa teknologi bukan sekedar tempat kita bisa menampilkan kemampuan kreatif kita dan menjadi lebih individual. Mereka yang ikut bergabung di dalam satu gerakan nasional 1000 startup digital, adalah kaum muda di era millenial yang mau berkolaborasi membangun Indonesia melalui dunia digital.

Bukan sekedar itu, mereka yang tidak menemukan dimana letak kolaborasi saat hanya memainkan smartphone ketika berkumpul di cafe, bisa jadi generasi ini membutuhkan sebuah co working space, seperti ngalup.co, sebuah co working space yang memang diciptakan untuk anak muda yang bukan hanya sekedar ingin pamer kreativitas, tapi juga ingin berkolabroasi untuk mewujudkan ide kreatif menjadi bukti nyata bagi Indonesia.

Nah, jika sudah begini, sudah dipastikan tidak ada alasan lagi bagi kita yang aktif menggunakan sosial media hanya sekedar ingin terlihat “eksis”. Karena kemajuan teknologi dan fasilitas lain yang mendukung kolaborasi sudah tersedia. Jangan menjadi kaum yang semakin individual, tapi berkolaborasilah dengan semua fasilitas yang sudah tersedia untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.